| Alex Bukan Jeme Lain, Tapi Jeme Gumay |
| Lahat, BP Di atas adalah gambar rumah limas, Kota palembang dan suasana di Lahat Sumsel. foto paling bawah adalah foto kampnye alex noerdin Di tengah kesibukannya mengunjungi sejumlah daerah di Sumsel, H Alex Noerdin menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Jurai Kebale’an di Desa Endikat Ilir, Kecamatan Gumay Talang, Kabupaten Lahat, Rabu (6/8). Dalam silaturahmi, Alex didampingi istri Hj Eliza Alex, beserta keluarga dan kerabat dari Sekayu dan Palembang. Rombongan Alex disambut langsung oleh Jurai Kebale’an, Faisal dan keluarga, serta perangkat-perangkat Jurai Kebale’an seperti para Jurai Tue dan Mimbar. Sebagai komunitas hukum adat Gumay Talang, turut serta dalam penyambutan unsur-unsur pemerintahan desa se-Kecamatan Gumay Talang, seperti para kepala desa, tokoh pemuda, dan karang taruna, serta tokoh masyarakat lain. “Pak Alex datang bukan tandang sedekah, tetapi balek sedekah. Sebab, Pak Alex bukan jeme lain, tetapi memang jeme Gumay,” kata perwakilan keluarga Jurai Kebale’an, Jhonson SE. Menurut Jhonson, sebagian besar desa-desa di Lahat adalah keluarga Gumay. Alex sendiri adalah keluarga dari almarhumah Ibunda Tjik Ya yaitu ibu kandung dari Amiraden Iskandar Rumsyah Amasin, Jurai Kebale’an ke XXVI. Ibunda Tjik Ya berasal dari Empat Lawang. Dari tataran keluarga, Ibunda Cik Ya adalah keluarga dekat ayahanda Alex, almarhum Noerdin Pandji. Jhonson menambahkan, bagi keluarga di rumah, Alex adalah keluarga Jurai Kebale’an. Hubungan keluarga ini tidak saja dari orangtua Alex, tetapi dari hubungan perkawinan di antara keluarga Jurai Kebale’an. Almarhum Haji Marasin bin Pare, mantan Pasirah Muara Danau, Empat Lawang, adalah adik kandung Amasin bin Pare, Jurai Kebale’an XXV. Haji Marasin hijrah menyusul keluarga dan kerabat Gumay yang lebih dahulu menetap di daerah Lintang. Istri Haji Marasin adalah keluarga dekat almarhum Noerdin Pandji, ayah Alex. Jadi, bagi keluarga Jurai Kebale’an, kedatangan Alex adalah keluarga yang balek ke rumah. “Pak Alex memanggil orangtua kami dengan sebutan wak. Pak Alex jelas jeme kite asli,” ungkap Jhonson. Sementara itu, H Alex Noerdin mengatakan, sangat senang kalau dianggap sebagai keluarga oleh Jurai Kebale’an. Dia pun meminta maaf karena selama ini jarang bertamu karena banyaknya kesibukan yang harus dijalani. Dalam kesempatan tersebut, Alex memberitahukan kepada Jurai Kebale’an serta keluarga besar dan kerabat Gumay, bahwa dia akan maju mengikuti Pemilukada Sumsel, 4 September mendatang. “Untuk itu, saya mohon restu dan doa dari Jurai Kebale’an beserta Keluarga dan kerabat Gumay di Sumsel, kiranya pencalonan menjadi Gubernur Sumsel dapat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Alex. Alex di Muaraenim Sementara itu, dalam lanjutan safari silaturahminya, Alex Noerdin dan rombongan, Rabu (6/8) juga berkunjung ke Muaraenim. Puluhan ribu warga di daerah ini sejak pagi hari, tampak menunggu kedatangan Sang Pelopor Sekolah dan Berobat Gratis, H Alex Noerdin. Tak pelak, lapangan sepakbola yang biasa disebut Lapangan Saringan di Kecamatan Lawang Kidul berubah menjadi lautan manusia. “Pak Alex siapa yang punya? Pak Alex siapa yang Punya? Pak Alex siapa yang punya? Yang punya kita semua,” teriak warga tanpa henti menyambut kedatangan Alex. Tokoh masyarakat Muaraenim H Mat Hudin menyebutkan, kehadiran Pak Alex jelas jadi momen membahagiakan bagi warga Lawang Kidul. Sebab, sudah sejak lama warga di sini ingin melihat pemimpin yang terkenal dengan program Sekolah dan Berobat Gratis tersebut. Bukti kalau program yang diciptakan Alex di Muba benar adanya, salah satu warga Muaraenim, Joko maju ke atas panggung dan bercerita. Dia menceritakan bagaimana dua anaknya yang bersekolah di Muba sama sekali tidak pernah membayar uang sekolah. “Slogan yang ditempel di poster, baliho, dan spanduk Pak Alex memang benar adanya. Anak saya di Muba dapat berobat dan sekolah gratis,” ungkap Joko disambut tepuk tangan meriah warga. Alex sendiri dalam sambutannya meminta maaf kepada warga karena sampai saat ini belum bisa membuktikan secara nyata program yang telah berhasil ia jalankan di Muba. “Kalau ibu-ibu dan bapak-bapak memberikan kepercayaan, insya Allah Program Sekolah dan Berobat Gratis akan segera terwujud di Sumsel. Saya bersama H Eddy Yusuf hanya perlu waktu satu tahun sejak dilantik untuk mewujudkannya. Kalau gagal, kami berdua bersedia mundur,” ujar Alex. /ron |
Rabu, 15 Oktober 2008
ALEX NOERDIN GUBERNUR SUMSEL DARI SUKU DAN MARGA GUMAY LAHAT
Senin, 18 Agustus 2008
Bigografi Rudy Apriansyah
Nama Lengkap :Rudy Apriansyah Gumay
Tempat Tanggal Lahir:Bukit Besar Palembang/ 30 April 1981
Agama :Islam
Jenis Kelamin :Laki-laki
Alamat :Jl.Stm Mandiri No.47 Rt.6/12 pancoran mas kota Depok
Pendidikan Terakhir :S1 Ilmu Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum"IBLAM"JAKARTA
No.Telpon :085880295729,08170834522,0217777729
email :Rudygumay@yahoo.co.id
situs :www.cintasriwijaya.blogspot.com
Pekerjaan :Karyawan Notaris
Kota Idola :Palembang City
Makanan Pavorit :Mpek-Mpek,Tekwan,Model,Semua masakan khas palembang
Motto :Majulah Palembang,Makmurlah Sumsel
Tempat Tanggal Lahir:Bukit Besar Palembang/ 30 April 1981
Agama :Islam
Jenis Kelamin :Laki-laki
Alamat :Jl.Stm Mandiri No.47 Rt.6/12 pancoran mas kota Depok
Pendidikan Terakhir :S1 Ilmu Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum"IBLAM"JAKARTA
No.Telpon :085880295729,08170834522,0217777729
email :Rudygumay@yahoo.co.id
situs :www.cintasriwijaya.blogspot.com
Pekerjaan :Karyawan Notaris
Kota Idola :Palembang City
Makanan Pavorit :Mpek-Mpek,Tekwan,Model,Semua masakan khas palembang
Motto :Majulah Palembang,Makmurlah Sumsel
Minggu, 10 Agustus 2008
Salam Kenal
Nama Aku Rudy Apriansyah Gumay.Aku di lahirkan di Bukit Besar Palembang.Aku asli wong Palembang tapi Ibu aku asli wong lahat dari marga gumay.Marga Gumay terletak di kecamatan pulau pinang kabupaten lahat, sekitar 6 km dari kota lahat.Suku Gumay terdiri dari tiga marga, yaitu Marga Gumay Ulu, Marga Gumay Lembak dan Marga Gumay Talang.Ibu aku berasal dari marga gumay lembak,dusun talang sawah kecamatan pulau pinang kabupaten lahat(Sekitar 6km dari kota lahat), itulah sebabnya aku membawa nama marga ibu saya, karena kedekatan saya sama ibu saya.Saat ini aku berada di kota depok jawa barat, salam kenal buat teman2 semuanya
Bis Rejang Permata nyaris di Rampok di Kota Lahat
Pada tanggal 2 Agustus saya berangkat dari kepahiang bengkulu menuju jakarta dengan menumpang bis rejang permata, dari kepahiang bis berangkat jam 3. Sekitar jam 9 malam bis kami sampai di dusun saung naga kabupaten kikim eks kabuapten lahat, bis kami dilempari batu hingga kacanya pecah, aku menduga pelakunya pastilah wong dusun saung naga itu.Pada jam 9:30 malam kami sampai di kota lahat, dikota lahat yang telah sepi ini, bis kami di hadang sekelompok orang yang meminta rokok dan sejumlah uang, setelah dikasih rokok dan uang sekelompok orang tersebut akhirnya mempersilahkan bis kami melanjutkan perjalanan, penumpas bis rejang permata sudah ketakutan semua karena menduga akan dirampok, karena para penghadang jalan itu membawa pedang yang panjang, tapi saya tidak takut karena saya wong asli palembang blasteran lahat dari marga Gumay, kalau malam itu dirampok, aku akan marahi para perampok itu kalau aku ini wong lahat juga dari marga gumay, karena sesama wong palembang,sesama wong lahat dan sesama wong sumsel itu tidak boleh saling langkahi. karena bagi aku aksi kejahatan seperti pelemparan batu tersebut bukan barang baru bagi saya, saya mengimbau agar semua bis yang melewati jalur lintas propinsi sumsel agar berhati-hati karena semua daerah kabupaten di sumsel rawan kejahatan, bukan cuma di lahat yang rawan, lubuklinggau,tebingtinggi,kikim,lahat,muara enim,baturaja,martapura,kayu agung,palembang dan sekayu semuanya adalah sarang penyamun, berhati-hatilah.
Rabu, 23 Juli 2008
SRIWIJAYA PAYO MAJU TERUS
SAYA RUDY GUMAY PUTR PALEMBANG MENDUKUNG SRWIJAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN GELAR YANG TELAH DIREBUT
Senin, 21 Juli 2008
BIOGRAFI GUBERNNUR SUMSEL 2004-2009
BIOGRAFI SYAHRIAL OESMAN
Di atas adalah kampanye Syharial Oesman Di Kota Lahat
Masa Kecil di Lorong Hanan.
LORONG Hanan terletak di kawasan Sekip Palembang. Dirumah Lorong Hanan inilah Syahrial menghabiskan masa kanak-kanaknya sampai dia berusia sekitar 12 tahun. Ketika masih kecil Syahrial tidur di kamar nomor tiga bersama ibunya. Sampai kelas VI SD Syahrial menikmati kehidupan masa kecilnya di rumah ini. Dia kemudian harus pindah di rumah pamannya untuk melajutkan sekolah SMP di Jakarta.
Lorong Hanan, menjadi salah satu tempat bersejarah dalam kehidupan Syahrial Oesman. Di tempat ini Syahrial bersama kakak-kakaknya yang lain membantu ibu mereka beternak ayam ras dan ayam petelur. Masa-masa sulit yang sempat dilewatkan Syahrial di tempat ini. Begitu juga masa bermain bersama teman-teman satu kampung, adalah saat-saat penuh kenangan indah bagi Syahrial di kawasa tempat tinggalnya.
Tumbuh tanpa Figur Sang Ayah
DI USIA yang sangat belia, Syahrial sudah menjadi anak yatim. Waktu itu tahun 1962, Syahrial baru duduk di kelas 2 SD. Ayahnya Oesman Ismail meninggal dunia karena serangan jantung dalam usia 40 tahun. Usia yang masih muda dan produktif untuk seorang laki-laki. Almarhum Oesman Ismail merupakan pejuang yang lahir di desa Kota Negara, Kecamatan Buay Madang (Sekarang Kecamatan Madang Suku II), 21 April 1921. Almarhum meninggal 16 Juli 1962.
Sepeninggal ayahna, kehidupan Syahrial kecil menjadi tidak menentu. Dari yang sebelumnya berkecukupan, harus hidup prihatin dan berhemat. Syahrial dan saudara-saudaranya yang lain harus membantu ibunya, yang sekaligus ayah mereka. Ibu Syahrial, Zaleha merupakan wanita yang tabah dan pekerja keras.
Akhirnya karena ketidakmampuan ibunya itu, usai sekolah dasar, Syahrial kecil terpaksa berpisah dengannya untuk melajutkan sekolah SMP di Jakarta. Dia bersama kakak-kakakya pindah ke Jakarta kecuali ibu dan adiknya yang perempuan pindah ke Martapura. Rumah keluarga di Palembang di kontrakkan.Ketika berada di Jakarta Syahrial tinggal bersama pamannya almarhum H. Aziz Hamid.
Di Jakarta, Syahrial mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus, yaitu di SMP Perguruan Cikini, (Percik). Di sekolah ini, memang yang menuntut ilmu adalah para anak petinggi di negeri ini. Atau tidak, anak-anak para pengusaha kaya dan karena pamannya seorang kaya, Syahrial pun bersekolah di SMP Percik ini. Syahrial sempat satu kelas dengan Bambang Triatmojo, anak mantan Presiden RI ke dua Soeharto, dan Handara anak pengusaha kaya Ibnu Sutowo.
Ditingkat menengah atas, Syahrial bersekolah di SMA 7 Jakarta. Beberapa temannya satu kelas antara lain Guruh Soekarno Putra, dan Eddi Widiyono, yang sekarang menjabat sebagai PT PLN (Persero).
Nama Kecilku Hery
NAMA sapaan Hery adalah pemberian orang tua Syahrial. Sapaan ini selalu digunakan pula oleh Syahrial saat berbicara. Jadi tidak pernah memakai sebutan Saya atau Aku, tetapi Hery. Misalnya Hery tadi ketemu... atau ini punya Hery.
Panggilan Hery, biasaya dipakai oleh orang-orang yang dekat dengan Syahrial. Selain keluarga dekat, panggilan ini akrab ditelinga sahabat-sahabatnya baik ketika kecil, sekolah di Jakarta, di Bangka ataupun ketika di bangku kuliah di Fakultas Tekhnik Universitas Sriwijaya.
Cucu Pangeran
KETIKA Syahrial dilantik sebagai Bupati OKU adalah manta Pesirah Marga Buay Pemuka Peliung Martapura OKU almarhum Mansyurdin Ali yang membuka cerita siapa leluhur Syahrial Oesman. Mansyurdin Ali masih tergolong paman Syahrial. Ia bercerita bahwa sebenarnya Syahrial memang memiliki garis keturunan dari pembesar di daerahnya. Cerita Mansyurdin tidak sebatas silsilah Syahrial saja tapi juga tada-tanda bahwa dulu keluarga Syahrial pernah mendapat semacam petunjuk bahwa Syahrial mungkin akan menjadi orang yang disegani.
Soalnya ketika lahir, Syahrial merupakan satu-satunya bayi yang menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Charitas Palembang. Tindakan operasi ini dilakukan tim dokter rumah sakit tersebut, setelah satu hari satu malam Syahrial kecil tidak nongol-nongol.
Cerita garis keturunan pangeran ini diutarakan pula salah satu paman Syahrial lainnya. Namanya Husni gelar Raden Suwito yang kini tinggal di Desa Pulau Negara Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Kabupaten OKU Timur. Pensiunan PNS ini memang ikut keluarga Syahrial sejak masih kecil dan kini hidup sederhana di desa tersebut.
Dimasa itu selain disegani dan dihormati pangeran merupakan keturunan darah biru. Husni membenarkan bahwa garis keturuan pangeran memang dari sebelah ibu Syahrial, Zaleha.
Zaleha merupakan putri ke dua dari pasangan pangeran H Abdul Hamid dan Jamilah. Setelah berkeluarga pasangan ini dikaruniai lima orang anak yang semuanya laki-laki. Masing-masing Syahruddin Oesman, Syah Djohan Oesman, Syahrir Oesman, Syahrial Oesman, Syah Junian Oesman. Karena tidak punya adik perempuan, akhirnya pasangan Oesman Ismail dan Zaleha mengadopsi Sri Rezeki menjadi adik perempuan satu-satunya dan si bungsu dari enam bersaudara.
Mama Tempat Mengaduh
SEJAK kepergian ayah tercinta untuk selama-lamanya, Syahrial kecil otomatis sangat tergantung dengan ibunya, Zaleha. Ibu menjadi tempat satu-satunya berlindung, bercengkerama, mengadu dalam suka dan duka.
Sepeninggal ayah Ibunya Zaleha, yang dipanggil mama itu menjadi orang tua tuggal dan berperan bukan saja sebagai ibu namun juga ayah. Zaleha membanting tulang dan bekerja keras untuk menghidupi lima anaknya yang masih tergolong kecil-kecil.
Bergelar Nata Perwira
SYAHRIAL Oesman, ketika menikahi Maphilinda Putri Gumay di Palembang pada 23 Juni 1985 memperoleh gelar Nata Prawira. Dalam bahasa Komering, Nata Prawira lebih akrab dipanggil Nato Prawiro. Istrinya Maphilinda mendapat gelar Nai Nato Prawiro, atau nyonya Nata Prawira.
Gelar ini diberikan ketika Syahrial menikah di Palembang 23 Juni 1985. beberapa gelar kehormatan disandang Syahrial diantaranya ketika menjabat sebagai Bupati OKU di tahun 2002. Syahrial Oesman memperoleh gelar kehormatan Dalom Kusumanegara dari masyarakat Ranau. Di Desa Tanjungjati, kecamatan Bandingagung, gelar ini mempunai makna tersendiri bagi eks-marga Warkuk (Desa Tanjungjati, Pagardewa, Kotabatu, dan Sukajaya) Kecamatan Bandingagung. Sejak pemekaran OKU menjadi tiga kabupaten, desa desa tersebut masuk kedalam OKU Selatan. OKU Selatan dikenal dengan daerah penghasil kopi, tembakau Ranau, dan Danau Ranau yang terkenal itu.
Selanjutnya Syahrial Oesman banyak medapatkan gelar-gelar kehormatan, diantaranya datang dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang ada di Sumsel dengan gelar Daeng Messange bersama-sama dengan istrinya yang artinya seorang pemimpin yang unggul, Warga Tanah Datar Sumatera Barat dengan gelar kehormatan Sangsako Tuanku Bagindo Basa Nan Kayo.
Hobby Membaca Buku Filsafat
SYAHRIAL menyukai hampir semua olahraga. Namun yang ia tekuni adalah olahraga golf. Satu hal yang tidak Syahrial hilangkan adalah membaca. Karena membaca adalah hobinya, bahkan ia membaca buku itu tidak pernah satu kali. Empat kali, dan ia baca hingga berulang-ulang kali. Kebanyakan buku yang dia baca adalah filsafat psikologi.
Sebetulnya begitu banyak buku filsafat yang dibacanya. Mulai dari filsafat hukum, filsafat tata negara, filsafat kehidupan dan filsafat psikologi. Namun dia cenderung menyukai psikologi.
Kenapa dirinya sampai suka buku filsafat, menurut Syahrial dari filsafat dia mengetahui nilai norma hakiki suatu benda. Di sisi lain melalui buku filsafat dia selalu menghitung perasaan orang.
Sosok Pintar tapi Usil
SYAHRIAL di kenal sebagai sosok yang usil di mata teman-temannya, misalnya ketika masih menempuh kuliah di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Syahrial sering iseng mengerjai teman-temannya, misalnya hal ini terjadi menimpa Yenny sahabatnya ketika kuliah dulu. Yenny yang pada waktu itu menjabat bendahara Ikatan Mahasiswa Sipil (IMS) seringkali ditarik rambutnya ketika kuliah. Kejadian ini juga sering menimpa mahasiswa lainnya.
Meskipun usil Syahrial termasuk mahasiswa pintar. Ketika di tingkat IV dia menjadi asisten dosen. Dia juga pernah mendapat beasiswa Supersemar dari pemerintah, Kata Apriadi Busri salah satu temannya. Syahrial menonjol ketika kuliah. Dalam urusan pekerjaan, Syahrial juga pintar membaca apa yang menjadi keinginan atasannya. Meskipun diberikan pekerjaan yang berat dia selalu menyelesaikannya dengan baik.
Pemain Drum yang Berbakat
MENYANYI bukan hal yang baru bagi Syahrial Oesman. Duania tarik suara memang sudah akrap dengannya sejak masih muda. Dulu ketika masih kuliah, Syahrial bersama teman-temannya sering melakukan latihan band. Alat musik yang dimainkannya adalah drum.
Jika alat musik yang dia sukai drum, tapi kalau grup musik banyak yang dia sukai. Diantaranya Godbless merupakan salah satu band favorit Syahrial. Ada juga Scorpions. Lagu-lagunya yang slowrock dan rock itu yang menjadi pilihannya. Gangnya ketika kuliah Universitas Sriwijaya. Sekarang grup band favoritnya bertambah satu atau mungkin lebih, seiring perjalanan waktu. Radja, salah satu grup band itu, yang cukup digandrungi anak muda tetapi Syahrial tidak fokus sebagai vocalis.
Syahrial Sosok Langka
PERGULATAN hidup dan kerasnya kehidupan membentuk watak Syahrial Oesman menjadi orang yang mandiri dan keras. Terpaan hidup pula yang membuat dia dengan sekuat tenaga harus berhasil menggapai cita-citanya. Hatinya sekeras batu karang, dan apa yang diinginkan harus tercapai, meskipun untuk itu dia harus jungkir balik bekerja. Siang dan malam. Seperti tak kenal lelah, otaknya selalu berpikir dan selalu memiliki ide yang kadang-kadang di luar dugaan orang lain.
Masa lalu yang tidak bahagia itu, agaknya banyak mempengaruhi kejiwaan Syahrial Oesman. Disamping sifatnya yang keras, agak temperamental, Syahrial tidak segan-segan memperlakukan lawannya sekalipun dengan baik. Tanpa dendam, memaafka dan hatinya gampang luluh.
Syahrial juga seorang pekerja yang penuh totalitas. Sebagai contoh, ketika mendapat kepercayaan dari sesepuh Sumsel di Jakarta H Taufik Kiemas untuk membangun gedung tambahan Rumah Sakit Siti Khadijah Palembang, Syahrial melakukannya dengan tuntas, bahkan pekerjaan yang diembannya selesai tepat waktu, dan ada kelebihan dana.
Syahrial dan Bakat Pemimpin
AURA bakal menjadi seorang pemimpin memang sudah terlihat sejak Syahrial Oesman masih kecil. Sikapnya yang selalu ingin didepan dan enggan disuruh-suruh sudah ditunjukkannya ketika bermain bersama teman-temannya di Lorong Hanan.
Bakat kepemimpinan dalam diri Syahrial juga diungkapkan kakaknya Syahrial Oesman. Dulu ketika Syahrial masih kecil dia senang melakukan tugas-tugas yang dalam pikiran orang dewasa tidak mampu dilakukannya. Misalnya mengangkat termos es yang berat untuk anak seusia dia ketika itu.
Bakat ini terbukti hingga Syahrial dewasa. Haryono, Mantan Bupati Bangka 1988-1993 pun menekankan bahwa bakat Syahrial sudah terlihat sejak dia menjabat sebagai Kepala Seksi Dinas PU Bangka di tahun 1988.
Kecenderungan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan sudah melebihi jabatannya dan rekan-rekan yang setingkat dengannya. Syahrial bahkan mempunyai prestasi yang melebihi orang yang pangkatnya lebih tinggi dari dia.
Dedikasi dari titik Nol
Satu-satuna gubernur sipil Indonesia yang berkarir dari titik nol adalah Syahrial Oesman. Ia sudah bekerja sebagai tenaga honorer di Kantor Wilayah Pekerjaan Umum Sumsel saat masih mengenyam kuliah. Alasannya, selain untuk cari pengalaman, kondisi waktu itu membuatnya harus bekerja agar biaya kuliah terpenuhi. Ia masuk dengan golongan II/A pada tahun 1982 tepatnya di Bagian Pendidikan dan Latihan Pegawai.
Gelar insinyur Teknik Sipil baru didapat tahun 1984. ia langsung diangkat pegawai Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk wilayah Bangka (waktu itu masih bagian Sumsel) dengan golonga III/A. Melalui dedikasi 13 tahun dijalani sebagai staf lapangan DPU, Syahrial Oesman ditunjuk sebagai Kepala Dinas PU Kabupaten Bangka. Baru 1998, beliau dipercaya Kepala Dinas PU lagi namun Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) berkantor di Baturaja.
Pemimpin yang Teruji dan Berpengalaman
SEGUDANG prestasi Syahrial Oesman torehkan sosok developer profesional sehingga ia dipercaya oleh masyarakat OKU untuk menjadi bupati periode 2000-2005. OKU pun menjadi kabupaten penuh prestasi. Di bawah kepemimpinan Syahrial Oesman, OKU dikenal sebagai pionir Otonomi Desa juga sekaligus sebagai pelopor pemekaran wilayah Kabupaten dengan pertimbangan efisiensi kepemerintahan demi rakyat.
Setelah 2,5 tahun sebagai Bupati OKU (tepatnya saat jadi 3 wilayah Kabupaten), Syahrial Oesman dipercaya menjadi Gubernur Sumsel periode 2003-2008. kepemimpinan Syahrial Oesman sangat berbeda dengan gubernur lainnya. Lebih banyak terjun kelapangan dibanding dibalik meja. Orientasinya membangun Sumsel bersama dan untuk rakyat seutuhnya. Visi dan Misinya tentu belajar dari pengalamannya sebagai sosok pembangun Sumsel selama lebih dari 20 tahun di Dinas PU. Ia tahu apa kelebihan Sumsel, juga tahu kekurangan yang wajib dibenahi.
Istri Pak Syahrial Oesman ini adalah Wong Lahat namanya Maphilinda Putri Gumay
Di atas adalah kampanye Syharial Oesman Di Kota Lahat
Masa Kecil di Lorong Hanan.
LORONG Hanan terletak di kawasan Sekip Palembang. Dirumah Lorong Hanan inilah Syahrial menghabiskan masa kanak-kanaknya sampai dia berusia sekitar 12 tahun. Ketika masih kecil Syahrial tidur di kamar nomor tiga bersama ibunya. Sampai kelas VI SD Syahrial menikmati kehidupan masa kecilnya di rumah ini. Dia kemudian harus pindah di rumah pamannya untuk melajutkan sekolah SMP di Jakarta.
Lorong Hanan, menjadi salah satu tempat bersejarah dalam kehidupan Syahrial Oesman. Di tempat ini Syahrial bersama kakak-kakaknya yang lain membantu ibu mereka beternak ayam ras dan ayam petelur. Masa-masa sulit yang sempat dilewatkan Syahrial di tempat ini. Begitu juga masa bermain bersama teman-teman satu kampung, adalah saat-saat penuh kenangan indah bagi Syahrial di kawasa tempat tinggalnya.
Tumbuh tanpa Figur Sang Ayah
DI USIA yang sangat belia, Syahrial sudah menjadi anak yatim. Waktu itu tahun 1962, Syahrial baru duduk di kelas 2 SD. Ayahnya Oesman Ismail meninggal dunia karena serangan jantung dalam usia 40 tahun. Usia yang masih muda dan produktif untuk seorang laki-laki. Almarhum Oesman Ismail merupakan pejuang yang lahir di desa Kota Negara, Kecamatan Buay Madang (Sekarang Kecamatan Madang Suku II), 21 April 1921. Almarhum meninggal 16 Juli 1962.
Sepeninggal ayahna, kehidupan Syahrial kecil menjadi tidak menentu. Dari yang sebelumnya berkecukupan, harus hidup prihatin dan berhemat. Syahrial dan saudara-saudaranya yang lain harus membantu ibunya, yang sekaligus ayah mereka. Ibu Syahrial, Zaleha merupakan wanita yang tabah dan pekerja keras.
Akhirnya karena ketidakmampuan ibunya itu, usai sekolah dasar, Syahrial kecil terpaksa berpisah dengannya untuk melajutkan sekolah SMP di Jakarta. Dia bersama kakak-kakakya pindah ke Jakarta kecuali ibu dan adiknya yang perempuan pindah ke Martapura. Rumah keluarga di Palembang di kontrakkan.Ketika berada di Jakarta Syahrial tinggal bersama pamannya almarhum H. Aziz Hamid.
Di Jakarta, Syahrial mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus, yaitu di SMP Perguruan Cikini, (Percik). Di sekolah ini, memang yang menuntut ilmu adalah para anak petinggi di negeri ini. Atau tidak, anak-anak para pengusaha kaya dan karena pamannya seorang kaya, Syahrial pun bersekolah di SMP Percik ini. Syahrial sempat satu kelas dengan Bambang Triatmojo, anak mantan Presiden RI ke dua Soeharto, dan Handara anak pengusaha kaya Ibnu Sutowo.
Ditingkat menengah atas, Syahrial bersekolah di SMA 7 Jakarta. Beberapa temannya satu kelas antara lain Guruh Soekarno Putra, dan Eddi Widiyono, yang sekarang menjabat sebagai PT PLN (Persero).
Nama Kecilku Hery
NAMA sapaan Hery adalah pemberian orang tua Syahrial. Sapaan ini selalu digunakan pula oleh Syahrial saat berbicara. Jadi tidak pernah memakai sebutan Saya atau Aku, tetapi Hery. Misalnya Hery tadi ketemu... atau ini punya Hery.
Panggilan Hery, biasaya dipakai oleh orang-orang yang dekat dengan Syahrial. Selain keluarga dekat, panggilan ini akrab ditelinga sahabat-sahabatnya baik ketika kecil, sekolah di Jakarta, di Bangka ataupun ketika di bangku kuliah di Fakultas Tekhnik Universitas Sriwijaya.
Cucu Pangeran
KETIKA Syahrial dilantik sebagai Bupati OKU adalah manta Pesirah Marga Buay Pemuka Peliung Martapura OKU almarhum Mansyurdin Ali yang membuka cerita siapa leluhur Syahrial Oesman. Mansyurdin Ali masih tergolong paman Syahrial. Ia bercerita bahwa sebenarnya Syahrial memang memiliki garis keturunan dari pembesar di daerahnya. Cerita Mansyurdin tidak sebatas silsilah Syahrial saja tapi juga tada-tanda bahwa dulu keluarga Syahrial pernah mendapat semacam petunjuk bahwa Syahrial mungkin akan menjadi orang yang disegani.
Soalnya ketika lahir, Syahrial merupakan satu-satunya bayi yang menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Charitas Palembang. Tindakan operasi ini dilakukan tim dokter rumah sakit tersebut, setelah satu hari satu malam Syahrial kecil tidak nongol-nongol.
Cerita garis keturunan pangeran ini diutarakan pula salah satu paman Syahrial lainnya. Namanya Husni gelar Raden Suwito yang kini tinggal di Desa Pulau Negara Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Kabupaten OKU Timur. Pensiunan PNS ini memang ikut keluarga Syahrial sejak masih kecil dan kini hidup sederhana di desa tersebut.
Dimasa itu selain disegani dan dihormati pangeran merupakan keturunan darah biru. Husni membenarkan bahwa garis keturuan pangeran memang dari sebelah ibu Syahrial, Zaleha.
Zaleha merupakan putri ke dua dari pasangan pangeran H Abdul Hamid dan Jamilah. Setelah berkeluarga pasangan ini dikaruniai lima orang anak yang semuanya laki-laki. Masing-masing Syahruddin Oesman, Syah Djohan Oesman, Syahrir Oesman, Syahrial Oesman, Syah Junian Oesman. Karena tidak punya adik perempuan, akhirnya pasangan Oesman Ismail dan Zaleha mengadopsi Sri Rezeki menjadi adik perempuan satu-satunya dan si bungsu dari enam bersaudara.
Mama Tempat Mengaduh
SEJAK kepergian ayah tercinta untuk selama-lamanya, Syahrial kecil otomatis sangat tergantung dengan ibunya, Zaleha. Ibu menjadi tempat satu-satunya berlindung, bercengkerama, mengadu dalam suka dan duka.
Sepeninggal ayah Ibunya Zaleha, yang dipanggil mama itu menjadi orang tua tuggal dan berperan bukan saja sebagai ibu namun juga ayah. Zaleha membanting tulang dan bekerja keras untuk menghidupi lima anaknya yang masih tergolong kecil-kecil.
Bergelar Nata Perwira
SYAHRIAL Oesman, ketika menikahi Maphilinda Putri Gumay di Palembang pada 23 Juni 1985 memperoleh gelar Nata Prawira. Dalam bahasa Komering, Nata Prawira lebih akrab dipanggil Nato Prawiro. Istrinya Maphilinda mendapat gelar Nai Nato Prawiro, atau nyonya Nata Prawira.
Gelar ini diberikan ketika Syahrial menikah di Palembang 23 Juni 1985. beberapa gelar kehormatan disandang Syahrial diantaranya ketika menjabat sebagai Bupati OKU di tahun 2002. Syahrial Oesman memperoleh gelar kehormatan Dalom Kusumanegara dari masyarakat Ranau. Di Desa Tanjungjati, kecamatan Bandingagung, gelar ini mempunai makna tersendiri bagi eks-marga Warkuk (Desa Tanjungjati, Pagardewa, Kotabatu, dan Sukajaya) Kecamatan Bandingagung. Sejak pemekaran OKU menjadi tiga kabupaten, desa desa tersebut masuk kedalam OKU Selatan. OKU Selatan dikenal dengan daerah penghasil kopi, tembakau Ranau, dan Danau Ranau yang terkenal itu.
Selanjutnya Syahrial Oesman banyak medapatkan gelar-gelar kehormatan, diantaranya datang dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang ada di Sumsel dengan gelar Daeng Messange bersama-sama dengan istrinya yang artinya seorang pemimpin yang unggul, Warga Tanah Datar Sumatera Barat dengan gelar kehormatan Sangsako Tuanku Bagindo Basa Nan Kayo.
Hobby Membaca Buku Filsafat
SYAHRIAL menyukai hampir semua olahraga. Namun yang ia tekuni adalah olahraga golf. Satu hal yang tidak Syahrial hilangkan adalah membaca. Karena membaca adalah hobinya, bahkan ia membaca buku itu tidak pernah satu kali. Empat kali, dan ia baca hingga berulang-ulang kali. Kebanyakan buku yang dia baca adalah filsafat psikologi.
Sebetulnya begitu banyak buku filsafat yang dibacanya. Mulai dari filsafat hukum, filsafat tata negara, filsafat kehidupan dan filsafat psikologi. Namun dia cenderung menyukai psikologi.
Kenapa dirinya sampai suka buku filsafat, menurut Syahrial dari filsafat dia mengetahui nilai norma hakiki suatu benda. Di sisi lain melalui buku filsafat dia selalu menghitung perasaan orang.
Sosok Pintar tapi Usil
SYAHRIAL di kenal sebagai sosok yang usil di mata teman-temannya, misalnya ketika masih menempuh kuliah di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Syahrial sering iseng mengerjai teman-temannya, misalnya hal ini terjadi menimpa Yenny sahabatnya ketika kuliah dulu. Yenny yang pada waktu itu menjabat bendahara Ikatan Mahasiswa Sipil (IMS) seringkali ditarik rambutnya ketika kuliah. Kejadian ini juga sering menimpa mahasiswa lainnya.
Meskipun usil Syahrial termasuk mahasiswa pintar. Ketika di tingkat IV dia menjadi asisten dosen. Dia juga pernah mendapat beasiswa Supersemar dari pemerintah, Kata Apriadi Busri salah satu temannya. Syahrial menonjol ketika kuliah. Dalam urusan pekerjaan, Syahrial juga pintar membaca apa yang menjadi keinginan atasannya. Meskipun diberikan pekerjaan yang berat dia selalu menyelesaikannya dengan baik.
Pemain Drum yang Berbakat
MENYANYI bukan hal yang baru bagi Syahrial Oesman. Duania tarik suara memang sudah akrap dengannya sejak masih muda. Dulu ketika masih kuliah, Syahrial bersama teman-temannya sering melakukan latihan band. Alat musik yang dimainkannya adalah drum.
Jika alat musik yang dia sukai drum, tapi kalau grup musik banyak yang dia sukai. Diantaranya Godbless merupakan salah satu band favorit Syahrial. Ada juga Scorpions. Lagu-lagunya yang slowrock dan rock itu yang menjadi pilihannya. Gangnya ketika kuliah Universitas Sriwijaya. Sekarang grup band favoritnya bertambah satu atau mungkin lebih, seiring perjalanan waktu. Radja, salah satu grup band itu, yang cukup digandrungi anak muda tetapi Syahrial tidak fokus sebagai vocalis.
Syahrial Sosok Langka
PERGULATAN hidup dan kerasnya kehidupan membentuk watak Syahrial Oesman menjadi orang yang mandiri dan keras. Terpaan hidup pula yang membuat dia dengan sekuat tenaga harus berhasil menggapai cita-citanya. Hatinya sekeras batu karang, dan apa yang diinginkan harus tercapai, meskipun untuk itu dia harus jungkir balik bekerja. Siang dan malam. Seperti tak kenal lelah, otaknya selalu berpikir dan selalu memiliki ide yang kadang-kadang di luar dugaan orang lain.
Masa lalu yang tidak bahagia itu, agaknya banyak mempengaruhi kejiwaan Syahrial Oesman. Disamping sifatnya yang keras, agak temperamental, Syahrial tidak segan-segan memperlakukan lawannya sekalipun dengan baik. Tanpa dendam, memaafka dan hatinya gampang luluh.
Syahrial juga seorang pekerja yang penuh totalitas. Sebagai contoh, ketika mendapat kepercayaan dari sesepuh Sumsel di Jakarta H Taufik Kiemas untuk membangun gedung tambahan Rumah Sakit Siti Khadijah Palembang, Syahrial melakukannya dengan tuntas, bahkan pekerjaan yang diembannya selesai tepat waktu, dan ada kelebihan dana.
Syahrial dan Bakat Pemimpin
AURA bakal menjadi seorang pemimpin memang sudah terlihat sejak Syahrial Oesman masih kecil. Sikapnya yang selalu ingin didepan dan enggan disuruh-suruh sudah ditunjukkannya ketika bermain bersama teman-temannya di Lorong Hanan.
Bakat kepemimpinan dalam diri Syahrial juga diungkapkan kakaknya Syahrial Oesman. Dulu ketika Syahrial masih kecil dia senang melakukan tugas-tugas yang dalam pikiran orang dewasa tidak mampu dilakukannya. Misalnya mengangkat termos es yang berat untuk anak seusia dia ketika itu.
Bakat ini terbukti hingga Syahrial dewasa. Haryono, Mantan Bupati Bangka 1988-1993 pun menekankan bahwa bakat Syahrial sudah terlihat sejak dia menjabat sebagai Kepala Seksi Dinas PU Bangka di tahun 1988.
Kecenderungan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan sudah melebihi jabatannya dan rekan-rekan yang setingkat dengannya. Syahrial bahkan mempunyai prestasi yang melebihi orang yang pangkatnya lebih tinggi dari dia.
Dedikasi dari titik Nol
Satu-satuna gubernur sipil Indonesia yang berkarir dari titik nol adalah Syahrial Oesman. Ia sudah bekerja sebagai tenaga honorer di Kantor Wilayah Pekerjaan Umum Sumsel saat masih mengenyam kuliah. Alasannya, selain untuk cari pengalaman, kondisi waktu itu membuatnya harus bekerja agar biaya kuliah terpenuhi. Ia masuk dengan golongan II/A pada tahun 1982 tepatnya di Bagian Pendidikan dan Latihan Pegawai.
Gelar insinyur Teknik Sipil baru didapat tahun 1984. ia langsung diangkat pegawai Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk wilayah Bangka (waktu itu masih bagian Sumsel) dengan golonga III/A. Melalui dedikasi 13 tahun dijalani sebagai staf lapangan DPU, Syahrial Oesman ditunjuk sebagai Kepala Dinas PU Kabupaten Bangka. Baru 1998, beliau dipercaya Kepala Dinas PU lagi namun Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) berkantor di Baturaja.
Pemimpin yang Teruji dan Berpengalaman
SEGUDANG prestasi Syahrial Oesman torehkan sosok developer profesional sehingga ia dipercaya oleh masyarakat OKU untuk menjadi bupati periode 2000-2005. OKU pun menjadi kabupaten penuh prestasi. Di bawah kepemimpinan Syahrial Oesman, OKU dikenal sebagai pionir Otonomi Desa juga sekaligus sebagai pelopor pemekaran wilayah Kabupaten dengan pertimbangan efisiensi kepemerintahan demi rakyat.
Setelah 2,5 tahun sebagai Bupati OKU (tepatnya saat jadi 3 wilayah Kabupaten), Syahrial Oesman dipercaya menjadi Gubernur Sumsel periode 2003-2008. kepemimpinan Syahrial Oesman sangat berbeda dengan gubernur lainnya. Lebih banyak terjun kelapangan dibanding dibalik meja. Orientasinya membangun Sumsel bersama dan untuk rakyat seutuhnya. Visi dan Misinya tentu belajar dari pengalamannya sebagai sosok pembangun Sumsel selama lebih dari 20 tahun di Dinas PU. Ia tahu apa kelebihan Sumsel, juga tahu kekurangan yang wajib dibenahi.
Istri Pak Syahrial Oesman ini adalah Wong Lahat namanya Maphilinda Putri Gumay
Minggu, 10 Februari 2008
PALEMBANG JUARA LIGA
Depok,11 februari 2008
Di Atas adalah suasana kegembiraan para pemain Sriwijaya saat juara
Di Atas adalah suasana kegembiraan para pemain Sriwijaya saat juara
Hari ini saya kembali membeli harian kompas untuk melihat sriwijaya masuk koran sebagai juara liga Indonesia dan copa Indonesia. Saya Rudy Apriansyah Gumay sebagai putra Sumsel khususnya dan pada umumnya warga sumsel baik yang ada di pulau jawa ini maupun di sumatra selatan sendiri sedang merayakan kemenagan tim sepak bolanya.Saya merasa bangga dan senang palembang bisa menang melawan medan,dihati saya tumbuh semangat hidup baru untuk meraih kesuksesan dikarenakan tim wong kito menang pada pertandingan pinal ligaIndonesia semalam di stadion sijalak harupat bandung.
Palembang kau selalu di hatiku, terimakasih Sriwijaya Fc semoga tahun depan kito menang lagi.
Putra Palembang
Rudy Apriansyah Gumay
Rabu, 06 Februari 2008
Salam Perkenalan
Depok,6 Februari 2008
WONG KITO GALO
Haiiiiiiiiiiiii Teman-teman semua,
Salam Kenal dari aku.Nama Aku Rudy Apriansyah,aku lahir pada tanggal 30 April 1981 di Kota Palembang dari pasangan Drs.Ismail dan Dra.Sulhanani.Aku Wong asli Palembang Sumatra Selatan dari marga Gumay.Marga Gumay berasal dari kabupaten lahat.Marga Gumay terdiri dari tiga bagian yaitu Gumay talang,gumay ulu dan gumay lembak.Aku sendiri berasal dari Gumay lembak.Aku sekarang sedang bekerja pada perusahaan informasi Internasional di jakarta.Blog aku ini akan aku isi tentang kehidupan di Sumatra Selatan seperti Sosial budaya,wisata alam dan wisata kota,makanan khas sumsel dll, sekian dulu ya Wassalamualikum.Wr.Wb.
WONG KITO GALO
Haiiiiiiiiiiiii Teman-teman semua,
Salam Kenal dari aku.Nama Aku Rudy Apriansyah,aku lahir pada tanggal 30 April 1981 di Kota Palembang dari pasangan Drs.Ismail dan Dra.Sulhanani.Aku Wong asli Palembang Sumatra Selatan dari marga Gumay.Marga Gumay berasal dari kabupaten lahat.Marga Gumay terdiri dari tiga bagian yaitu Gumay talang,gumay ulu dan gumay lembak.Aku sendiri berasal dari Gumay lembak.Aku sekarang sedang bekerja pada perusahaan informasi Internasional di jakarta.Blog aku ini akan aku isi tentang kehidupan di Sumatra Selatan seperti Sosial budaya,wisata alam dan wisata kota,makanan khas sumsel dll, sekian dulu ya Wassalamualikum.Wr.Wb.
Langgan:
Entri (Atom)
